Postingan

Menampilkan postingan dengan label JURNAL

4 Jalan Yoga Sebagai Benteng Pertahanan Menghadapi Paham-Paham Negatif

 Penulis: Desiderius M. Taena No. Regis: 611 17 034 Mahasiswa Fakultas Filsafat-Semester VIII Universitas Katolik Widya Mandira-Kupang   Pengantar Kerinduan terdalam manusia ialah agar dapat terbebas dari berbagai macam belenggu kehidupan. Semua orang tidak suka ditekan, dikejar, dan bahkan diancam oleh berbagai macam hal dari luar dirinya. Maka dari itu, manusia selalu mencari berbagai macam jalan untuk mencapai tujuannya ini. Kenyataan yang terjadi ialah bahwa dalam pencarian akan kebebasan dan kebahagiaan, banyak manusia modern yang mengambil jalan yang salah. Pengambilan jalan ini merupakan sebuah bentuk tindakan yang lahir dari pemahaman yang salah akan kebebasan dan kebahagiaan. Hedonisme, materialisme, atheisme, dan berbagai macam paham modern lainnya merupakan penggoda nyata yang membelokkan jalan pencarian manusia. Ada berbagai cara bagi mansuia untuk mencapai cita-cita pembebasan ini. Metode-metode ini memiliki nama yang dikenal secara umum dengan “Yoga” (ber...

Konsep Spiritual dan Moral dalam Perjuangan Kebebasan Menurut Sri Aurobindo Ghosh dan Relevansinya Bagi Bangsa Indonesia

oleh: Agustinus Moensaku No. Regis: 611 17 023 Mahasiswa Fakultas Filsafat - Semester 8 Universitas Katolik Widya Mandira - Kupang. Sri Aurobindo Ghosh (1872-1950) telah menjadi salah satu pemikir dan filsuf terbaik India modern. Dia juga seorang pemimpin populer dari gerakan kemerdekaan yang kemudian menjadi seorang yogi dan seorang mistikus. Aurobindo lahir di Konnanagar (Benggala Barat) pada tanggal 15 Agustus 1872. Segera setelah menyelesaikan pendidikannya dari Biara Loreto di Darjeeling, ia dikirim ke Inggris untuk melanjutkan studi lebih lanjut. Ia belajar di Sekolah St. Paul di London dari tahun 1884. Setelah mendapatkan beasiswa klasik senior, ia bergabung dengan King's College, Cambridge pada tahun 1890. Setelah kembali ke India, dia belajar bahasa Sanskerta dan budaya, agama dan filsafat India. Dan kemudian hingga 1910, dia mengabdikan dirinya pada perjuangan kebebasan dengan memperkenalkan Program radikal untuk Kongres Bengal sambil mendesak orang India untuk memboikot...

POST-TRUTH

  Penulis: Febronius Kiik (Mahasiswa Semester VIII) Fakultas: Filsafat U niversitas Widya Mandira Kupang   “ Post-truth [1] ” Abstraksi: Hoaks menjadi bagian utuh yang melekat dalam kehidupan manusia postmodernis. Kerangka berpikir manusia telah ditelanjangi dengan berita bohong, yang pada prinsipnya akan membawa pada kepincangan dalam tatanan hidup bersosial dan bermasyarakat, baik secara politik maupun religius. Di sini penulis menghadirkan beberapa pemikiran dasar yang mau menjelaskan bagaimana para pemikir postmodernis ingin memanipulasi segala kebenaran-kebenaran universal termasuk dogma-dogma dengan argumentasi-argumentasi yang berlawanan.   Kemudian mereka melanjutkan serangannya dengan mengembangkan sebuah suasana dan kultur yang mengangkat kebenaran dan kekuatan lokal menjadi acuan perilaku dan kebudayaan. Meraka dengan tegas menolak sebuah “determinisme universal” yang telah lama menjadi klaim sains dan pengetahuan modern. Kemudian penulis juga merancang...

Filsafat Politik Mahatma Gandhi tentang Ahimsa dan Satyagraha Terhadap Kekerasan Struktural di Indonesia

  oleh: Demitrius Halek Mahasiswa Fakultas Filsafat-Semester 8 Univesitas Katolik Widya Mandira-Kupang   ABSTRAKSI Kekerasan struktural yang terjadi di Indonesia memiliki bentuk yang bermacammacam. Dimulai dari penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan kekerasan beragama. Kekerasan beragama di Indonesia tidak terlepas dari intoleransi beragama yang meningkat belakangan tahun terakhir ini. Apalagi setelah terjadinya Pilkada Jakarta pada tahun 2014. Setelah momen mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahya Purnama dipidana dalam kasus penodaan agama yang kebetulan berasal dari kelompok minoritas. Fenomena kekerasan struktural pemerintah dalam kekerasan beragama dapat dilihat dari beberapa kasus yang memperlihatkan adanya ketidakhadiran negara dalam mendinginkan suatu konflik atau mencegah adanya situasi konflik. Kondisi ini menunjukkan bahwa di rezim demokrasi pun masih ada kekerasan structural melalui tindakan pemerintah yang membiarkan atau malah melegitimasi kekerasan struktural...