Postingan

POST-TRUTH

  Penulis: Febronius Kiik (Mahasiswa Semester VIII) Fakultas: Filsafat U niversitas Widya Mandira Kupang   “ Post-truth [1] ” Abstraksi: Hoaks menjadi bagian utuh yang melekat dalam kehidupan manusia postmodernis. Kerangka berpikir manusia telah ditelanjangi dengan berita bohong, yang pada prinsipnya akan membawa pada kepincangan dalam tatanan hidup bersosial dan bermasyarakat, baik secara politik maupun religius. Di sini penulis menghadirkan beberapa pemikiran dasar yang mau menjelaskan bagaimana para pemikir postmodernis ingin memanipulasi segala kebenaran-kebenaran universal termasuk dogma-dogma dengan argumentasi-argumentasi yang berlawanan.   Kemudian mereka melanjutkan serangannya dengan mengembangkan sebuah suasana dan kultur yang mengangkat kebenaran dan kekuatan lokal menjadi acuan perilaku dan kebudayaan. Meraka dengan tegas menolak sebuah “determinisme universal” yang telah lama menjadi klaim sains dan pengetahuan modern. Kemudian penulis juga merancang...

Filsafat Politik Mahatma Gandhi tentang Ahimsa dan Satyagraha Terhadap Kekerasan Struktural di Indonesia

  oleh: Demitrius Halek Mahasiswa Fakultas Filsafat-Semester 8 Univesitas Katolik Widya Mandira-Kupang   ABSTRAKSI Kekerasan struktural yang terjadi di Indonesia memiliki bentuk yang bermacammacam. Dimulai dari penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan kekerasan beragama. Kekerasan beragama di Indonesia tidak terlepas dari intoleransi beragama yang meningkat belakangan tahun terakhir ini. Apalagi setelah terjadinya Pilkada Jakarta pada tahun 2014. Setelah momen mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahya Purnama dipidana dalam kasus penodaan agama yang kebetulan berasal dari kelompok minoritas. Fenomena kekerasan struktural pemerintah dalam kekerasan beragama dapat dilihat dari beberapa kasus yang memperlihatkan adanya ketidakhadiran negara dalam mendinginkan suatu konflik atau mencegah adanya situasi konflik. Kondisi ini menunjukkan bahwa di rezim demokrasi pun masih ada kekerasan structural melalui tindakan pemerintah yang membiarkan atau malah melegitimasi kekerasan struktural...